Halaman

Membaca Dalam Hati, Menulis isi Hati

Saat masih duduk di Sekolah Dasar, saya pernah diajarkan membaca dengan mengeluarkan suara, sehingga semua orang yang ada disekitar dapat mendengar sesuatu yang saya baca. Pelajaran ini saya terima di sekolah maupun dirumah. Mungkin maksud dan tujuan pelajaran tersebut adalah agar sang guru dapat meralat kesalahan baca.

Mungkin juga untuk menumbuhkan keberanian kita mengeluarkan suara di depan banyak orang. Saat itu saya sangat menyadari bahwa saya adalah anak yang pemalu, sehingga sebisa mungkin saya berusaha sebisa mungkin untuk menghindar dari pelajaran tersebut. Membaca merupakan sesuatu yang sudah saya kuasai sebelum masuk sekolah dasar, karena pelajaran tersebut sudah sering diberikan oleh ibu saya dirumah, namun membaca didepan umum merupakan hal yang saya takuti. Saya hanya berani membaca dengan keras saat berada di rumah. Kemampuan membaca dengan mengeluarkan suara, ternyata mempunyai dampak negative juga. Contohnya, saat malam hari, ketika saya membaca buku dengan mengeluarkan suara, bapak saya menegur agar suara saya dikecilkan, atau bahkan kalau bisa tanpa mengeluarkan suara. Mungkin bapak saya terganggu oleh suara saya saat dia sedang membaca koran atau sedang melakukan pekerjaannya. Nah mulai saat itu saya disuruh oleh bapak untuk membaca tanpa mengeluarkan suara, dan posisi mulut tertutup. Itulah yang dinamakan membaca dalam hati, membathin dalam membaca. Sebenarnya saya lebih suka membaca dalam hati dari pada membaca dengan mengeluarkan suara. Kegemaran saya yang lain adalah menulis isi bathin. Saya termasuk anak yang pendiam, sehingga dalam mengekspresikan sesuatu, saya lakukan dengan tulisan atau dengan gambar. Ekspresi dalam bentuk tulisan atau gambar, tidak pernah saya simpan, biasanya langsung saya buang ketempat sampah dengan kondisi sudah saya robek kecil-kecil dengan harapan agar orang lain tidak mengetahui apa yang saya tulis dan gambar. Saya termasuk tipikal yang tidak suka dikritik, oleh karenanya saya jarang menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Semua hal yang terjadi, saya simpan didalam hati. Sekarang, dijaman modern ini, computer merupakan media yang sudah umum digunakan orang. Ditambah lagi internet yang selalu menyajikan berbagai informasi dari berbagai penjuru dunia. Internet sangat berkontribusi menciptakan manusia menjadi pendiam. Hal ini sangat saya rasakan pada diri saya, dimana saya terbiasa membaca berbagai informasi dari internet, dan menulis berbagai ide melalui blog. Mengakses internet bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Sampai sekarang pun saya masih sering merasa sulit mau menulis. Karena itu masih tahap belajar menulis. Tapi saya tekadkan untuk terus menulis. Tentu saja dengan mencari-cari kesempatan di tengah-tengah penuhnya waktu ngurusi puyuh-puyuh peliharaan. Biarpun masih merasa sulit, tapi punya prinsip agar merasa mudah dalam menulis. Prinsip itu menjadi anggapan saya, bahwa menulis adalah “hanya” menuliskan suara batin menjadi nyata, menjadi sebentuk tulisan. Terangkai dari huruf demi huruf, menjadi kata, lantas kalimat, paragraf, sampai menjadi suatu yang mungkin boleh dianggap artikel. Dengan demikian, ketika merasa sulit mau menulis, bisa menjadi merasa mudah. Bagaimanapun hasilnya. Membatin apa? Nah, ini yang bisa menjadi topik dari tulisan. Membatin bisa berasal dari rekaman pikiran, dari ide pikiran, pendapat yang merupakan hasil pikiran, maupun perasaan sebagai wujud suara hati. Senang, sedih, gembira, kecewa: semua bisa dibatin, dan menjadi nyata ketika dituliskan. Terinspirasi dari sebuah tulisan seorang kompasianer, saya juga merasakan hal yang sama. Menulis karena malu. Apa hubungannya menulis dengan malu? Menulis adalah mengungkapkan apa yang dibatin. Sama juga dengan bicara. Lebih sering juga menjadi ungkapan apa yang dibatin. Biarpun tidak semua yang dibatin musti menjadi bahan bicara atau bahan tulisan. Terkait dengan malu, saya termasuk pemalu jika bicara di depan umum. Karena itu saya menulis. Dengan menulis, tidak langsung berhadapan dengan umum. Bahkan bisa diedit, atau mungkin dihapus. Nah, daripada dibatin? Kenapa tidak ditulis saja? Sekarang ada blog. Silahkan semua pikiran dan perasaan diungkapkan lewat dibatin, yang kemudian dituliskan, menjadi postingan demi postingan.

1 komentar: