I. BIBIT1.Biji
2.Cangkok
3.Okulasi
Syarat tumbuh jeruk yang harus diperhatikan, antara lain suhu optimum 25 oC-30 oC, curah hujan 1.900-2.400 mm setahun dengan curah hujan minimum 1.270 mm,.......... ketinggian 1-1.200 m dpl (tergantung kultivar yang ditanam). Tanah yang cocok adalah tanah dengan tekstur gembur berpasir hingga lempung berliat, pH 4-9 (yang optimal sekitar 4,5-8,0).
Varietas yang dianjurkan untuk ditanam di Indonesia adalah Jeruk Keprok, Batu 55, Tejakula, Siem, Madura, Garut, Jeruk Manis, Pacitan Waturejo dan Punten.
II. PENGOLAHAN TANAH Sebelum pohon jeruk ditanam, terlebih dahulu dibuat lubang-lubang tanam. Tanah yang telah selesai dikerjakan bila mulai turun hujan agar secepat mungkin ditanami. Untuk menjaga kesuburan tanah hendaknya ditanam pupuk hijau misalnya : Centrocema pubescens, Mimosa invisa, Calopogonium muconoides dll. Supaya kebun tidak tergenang pada musim hujan dibuat saluran pembuangan.
III. PENANAMAN
1. Setelah pengolahan tanah selesai, dibuat tanda untuk lubang-lubang tanaman dengan air.
2. Jarak tanam 5x5 m, 5x6 m, atau 6x6 m tergantung jenis jeruk yang ditanam. Pada tanah-tanah yang subur harus lebih besar daripada tanah biasa.
3. Lubang untuk tanam digali dengan ukuran 50x50x40 cm atau berbentuk silinder dengan diameter 50 cm dan dalamnya 40 cm.
4. Tanah bagian atas yang berwarna kehitam-hitaman dipisahkan dari tanah di bawahnya.
5. Kurang lebih 1-2 minggu sebelum tanam, tanah bagian bawah dimasukkan kembali terlebih dahulu, baru kemudian bagian atas setelah dicampur pupuk kandang.
6. Waktu yang baik untuk menanam yaitu setelah musim hujan hingga menjelang musim kemarau.
7. Penanaman menjelang musim kemarau, harus sering disiram agar tidak kekeringan.
IV. PEMUPUKAN
Jenis/varietas Perlakuan Suhu penyimpanan
(oC) Daya simpan
(Hari)
Gedong -
4% CaCl2-80 kpa 5 menit Kamar (30-31)
27 9-11
13
Indramayu Lilin 6%
-
Sportak 500 ppm pada 55 oC
Benlate 500 ppm pada 55 oC
CaCl2 4% dengan -60 kpa 30-31
30-31
30-31
30-31
30-31 12
6
10-12
10-12
16-23
Golek -
4% CaCl2-60 cm Hg s/d -70 cm Hg 10 menit 10
27 15
22
Manalagi - 30-31 8
Arumanis -
4% CaCl2 145 mm Hg 3-9 menit 30-31
27 8-10
13
Catatan : Jarak tanam : 5x5 m, dengan populasi + 400 tanaman perhektar
Cara pemberian pupuk
Pemberian pupuk organik (kandang/kompos) dan anorganik (Urea, TSP, dan KCl) dengan cara dibenamkan ke dalam tanah melingkar sekeliling tajuk dengan jarak 75 cm dari pangkal batang sampai dengan 50 cm di luar tajuk dan kedalaman + 7,5 cm. Pada saat pemberian pupuk secara bersamaan, terlebih dahulu diberikan pupuk organik baru kemudian di atasnya diberikan pupuk anorganik.
V. PEMELIHARAAN
1. Penyiangan
Dalam jangka waktu tertentu tanaman pengganggu di sekitar tanaman terutama yang masih muda akan mulai tumbuh. Untuk itu perlu dilakukan penyiangan yang biasanya dilanjutkan dengan pembubunan.
2. Pengairan
Untuk mencapai pertumbuhan yang optimal, tanaman jeruk membutuhkan air sekitar 50 liter per m2 setiap bulan. Pengairan dilakukan sesuai dengan keadaan cuaca, yaitu bila musim hujan, pada keadaan udara sangat lembab dan keadaan tanaman kurang mendapat sinar matahari tidak diperlukan pengairan, sebaliknya bila musim kemarau dan pada kedalaman 3 cm tanah sudah mengalami kekeringan, maka perlu diberikan pengairan.
3. Pemangkasan
Pemangkasan dianjurkan terutama pada cabang-cabang air atau ranting yang tidak produktif, sudah kering dan mati, terkena penyakit dan yang tumbuhnya tidak teratur. Semua pemangkasan dilakukan pada awal musim hujan dan sewaktu-waktu, apabila terdapat cabang atau ranting yang perlu dipangkas.
4. Penjarangan buah
Untuk tanaman muda, pada pembuahan pertama (umur 2-3 tahun), sebaiknya buah yang muncul digugurkan/dipangkas, dengan tujuan untuk menjaga kondisi tanaman agar tetap baik/sehat, karena apabila dipaksakan berbuah akan memperlemah kondisi tanaman, sehingga mudah terserang penyakit. Untuk tanaman dewasa penjarangan dianjurkan dilaksanakan secara selektif dengan memperhatikan kondisi tanaman.
VI. PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT
1. Penyakit CVPD
Gejala :
Daun berwarna kuning, kaku, lebih tebal dan sering berdiri tegak serta terdapat warna hijau mengelompok tidak merata. Tulang daun menonjol dan berwarna hijau gelap. Pada intensitas serangan yang berat, daun menjadi lebih kecil dan menghasilkan buah lebih kecil (sebesar kelereng) dengan biji berwarna hitam.
Pengendalian :
• Sanitasi dan eradikasi tanaman sakit
• Penanaman bibit yang bebas penyakit
• Penerapan teknologi bududaya yang baik
• Pengawasan lalu lintas bibit/benih
• Pengendalian serangga penular
2. Penyakit tepung
Gejala :
Permukaan daun atau ranting muda yang terserang cendawan Oidium tingitanium ditutupi oleh lapisan tepung berwarna putih. Daun yang terserang mengeriting atau mangalami penyimpangamn bentuk dan mengering.
Pengendalian :
• Sanitasi terhadap tunas dan daun-daun sakit yang tidak produktif
• Penghembusan dengan serbuk belerang atau penggunaan fungisida yang efektif dan mudah terurai bila dijumpai serangan. Penghembusan dengan serbuk belerang dilakukan pagi hari, saat bunga dan daun masih basah oleh embun.
3. Penyakit Tristeza (Quick decline)
Gejala :
Infeksi virus pada tanaman jeruk melalui serangga penular Toxoptera citricida dan beberapa janis kutu lainnya mengakibatkan kerusakan pada jaringan pembuluh tapis (phloem). Xilem memebntuk lekukan atau celah-celah pada jaringan kayu pada batang, cabang atau ranting, dan gejala daun menguning. Gejala khas penyakit ini adalah daun-daun tanaman berubah warna menjadi perunggu atau kuning dan gugur sedikit demi sedikit.
Terjadi pemucatan tulang daun (vien clearing) berupa garis-garis putus atau memanjang pada tulang daun yang tembus cahaya. Daun tampak kaku dan berukuran lebih kecil dan tepinya melengkung ke atas. Tanaman yang terserang menghasilkan bunga berlebihan tetapi tidak dapat berkembang menjadi buah yang matang.
Pengendalian :
• Penggunaan mata tempel yang bebas penyakit dan batang bawah tahan terhadap virus Tristeza
• Penyemprotan serangga penular dengan insektisida efektif dan mudah terurai
• Eradikasi tanaman sakit dan sanitasi tanaman inang serangga penular.
4. Penyakit kulit Diplodia
Serangan Diplodia basah mengakibatkan tanaman mengeluarkan belendok berwarna kuning emas dari batang atau cabang tanaman. Kulit tanaman yang terserang dapat sembuh, mengering dan mengelupas. Apabila penyakit terus berkembang, pada kulit terjadi luka-luka tidak teratur dan dapat berkembang melingkari batang atau cabang sehingga menyebabkan kematian cabang atau tanaman.
Serangan Diplodia kering lebih berbahaya karena gejala awal sulit diketahui. kulit batang atau cabang mengering, terdapat celah kecil pada permukaan kulit, dan bagian kulit dan batang di bawahnya berwarna hijau kehitaman. Perluasan kulit mengering sangat cepat dan bila sampai melingkari tanaman, daun-daun menguning dan menyebabkan kematian cabang atau tanaman.
Pengendalian :
• Mencegah penyebaran penyakit dengan menbersihkan alat-alat pertanian yang akan digunakan, misalnya dengan karbolinium plantarum 8%
• Menghindari pelukaan bagian tanaman
• Bagian kulit yang terinfeksi dikuliti/dilepas (+ 1-2 cm kulit sehat di sekitarnya), lalu luka yang terjadi ditutup misalnya dengan karbolinium parafin
• Eradikasi, dengan membongkar tanaman yang terserang berat untuk mengurangi sumber infeksi.
5. Penyakit busuk pangkal batang (Brown rot gummosis)
Gejala :
Pangkal batang atau sambungan antara batang atas dan bawah pada bibit okulasi yang terserang cendawan Phytophthora sp. menimbulkan gejala awal berupa bercak basah berwarna gelap pada kulit batang. Kulit batang yang terserang permukaannya cekung dan mengeluarkan blendok, dan sering terbentuk kalus. Apabila serangan pada kulit sampai melingkari batang dapat mengakibatkan kematian tanaman.
Perkembangan penyakit ke bagian atas, umumnya terbatas sampai 60 cm di atas permukaan tanah, sedangkan perkembangan ke bawah dapat meluas ke akar tanaman.
Pengendalian :
• Penggunaan batang bawah yang toleran Phytophthora sp. misalnya Troyer dan Cleopatra Mandarin dengan tinggi sambungan lebih dari 45 cm di atas permukaan tanah
• Menghindarkan terjadinya pelukaan pada akar maupun batang
• Menjaga agar drainase tanah tetap baik dan mencegah adanya penggenangan di sekitar pangkal batang
• Melabur atau mencat batang dengan bubur Bordo atau Cupravit. Apabila serangan ringan, dapat dikendalikan dengan membuang kulit byang terserang, dan kemudian diolesi luka tersebut dengan bubur Bordo, atau diolesi sekeliling bagian kayu dengan aspal ataupun karbolineum plantarum.
6. Hama Penggerek buah.
Gejala :
Ulat Citripestis sagitiferella menggerek buah sampai ke daging buah, bekas lubang gerekan mengeluarkan getah dan kadang-kadang tertutup kotoran ulat. Serangan berat, buah akan busuk dan gugur. Jenis keprok dan Siem kurang disukai.
Pengendalian :
• Untuk mencegah peletakan telur sebaiknya dilakukan pembungkusan terhadap buah jeruk yang masih muda
• Memetik dan memusnahkan/mengubur buah jeruk yang terserang, unterval pengamatan setiap 10 hari
• Pemberian insektisida dilakukan sebelum telur serangga menetas (telur berkelompok, tersusun seperti genting pada separuh bagian bawah kulit buah).
7. Lalat buah
Gejala :
Larva atau ulat Dacus spp. hidup di dalam buah yang hampir masak, buah menjadi busuk dan kemudian gugur. Biasanya di bagian tengah buah terdapat lubang kecil.
Pengendalian :
• Untuk menghindari terjadinya serangan, maka buah muda dibungkus sampai menjelang panen
• Untuk mengurangi populasi lalat dewasa dapat digunakan zat penarik kelamin (sex attractant) metil eugenol.
VI. PANEN DAN PASCAPANEN
Buah jeruk akan mencapai kematangan 8-16 bulan setelah muncul bunga, tergantung pada varietas, lokasi penanaman, iklim, tipe tanah, cara bercocok tanam dan faktor-faktor lain. Umumnya masa panen untuk jeruk manis berkisar antara 2-6 bulan.
Di Indonesia kriteria panen yang digunakan untuk jeruk keprok maupun orange adalah apabila warna kulit sudah berubah warna, permukaan kulit buah halus dan tekstur agak lunak. Bila lokasi pasar agak jauh maka dipanen dalam keadaan matang hijau dan bila lokasi pasar dekat maka dipanen dalam keadaan matang kuning.
Pemanenan jeruk umunya dilakukan dengan cara dipetik atau dengan digunting dengan gunting yang pendek, agak melengkung dan ujung-ujungnya tumpul. Tangkai buah dipotong sependek mungkin, umumnya 3-5 cm. Selanjutnya buah jeruk dipindahkan ke keranjang plastik atau kayu atau dikumpulkan di tempat yang teduh. Pemanenan buah jeruk harus dilakukan pada saat buah tidak basah, maka sebaiknya dilakukan waktu embun sudah menguap, dan juga tidak boleh pada waktu hujan atau segera setelah hujan. Buah jeruk yang baru dipanen harus segera disimpan di tempat yang terlindung dari hujan dan sinar matahari.
VII. SOSIAL EKONOMI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar